SENJANEWS.NET
JAKARTA – Pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di pasar global diperkirakan masih menghadapi tekanan hingga pertengahan 2027. Gangguan operasional kilang minyak di Rusia dan Timur Tengah, ditambah penurunan stok yang signifikan, menjadi faktor utama yang memperpanjang ketatnya pasokan energi dunia.
Peringatan tersebut disampaikan Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) dalam laporan pasar minyak terbarunya. Kondisi ini menjadi perhatian karena solar merupakan salah satu komponen penting yang menopang aktivitas transportasi, industri, pertambangan, hingga distribusi kebutuhan pokok.
Berdasarkan laporan IEA yang dikutip IDXChannel pada 16 Oktober 2026, pasar solar global mengalami pengetatan pada kuartal III-2026. Situasi tersebut dinilai tidak biasa karena berbeda dari pola musiman yang umumnya terjadi di pasar energi.
Penurunan persediaan yang lebih besar dari perkiraan sejak kuartal II-2026 semakin membatasi ketersediaan solar, terutama menjelang meningkatnya kebutuhan bahan bakar pada musim dingin di sejumlah negara.
Ekspor Solar Menyusut, Pasar Energi Kian Tertekan
Tekanan pasokan terlihat dari penurunan ekspor solar Rusia dan Timur Tengah. IEA mencatat, ekspor dari kedua kawasan tersebut turun sekitar 1,3 juta barel per hari pada September 2026 dibandingkan tingkat sebelumnya. Sementara itu, ekspor solar global secara keseluruhan turun sekitar 700.000 barel per hari dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berkurangnya pasokan dari dua kawasan produsen tersebut belum sepenuhnya dapat digantikan oleh tambahan produksi dari negara lain. Akibatnya, pasar menghadapi persaingan yang lebih ketat untuk memperoleh bahan bakar diesel.
IEA menilai, sekalipun kapasitas pengolahan kilang dapat pulih dengan cepat menjelang akhir 2026, tambahan pasokan belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam waktu dekat.
Pemulihan stok secara berkelanjutan pun diperkirakan baru berpeluang terjadi pada semester II-2027, bergantung pada perkembangan operasional kilang dan situasi geopolitik.
Harga Solar Berpotensi Menekan Biaya Logistik dan Industri
Krisis pasokan solar tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan bakar, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang lebih luas.
Harga solar yang tinggi dapat meningkatkan biaya operasional perusahaan transportasi, logistik, pertambangan, dan industri manufaktur. Kenaikan biaya tersebut berpotensi diteruskan ke harga barang dan jasa, sehingga menambah tekanan inflasi.
IEA juga memperkirakan permintaan minyak global akan turun sekitar 2,6 juta barel per hari sepanjang 2026. Solar diperkirakan menyumbang sekitar seperempat dari penurunan permintaan tersebut, seiring tingginya harga energi dan memburuknya prospek ekonomi.
Meski harga solar global telah turun dari rekor tertingginya pada September 2026, tingkat harga yang masih tinggi menunjukkan bahwa tekanan pasar belum sepenuhnya berakhir.
Indonesia Perlu Mencermati Dampak terhadap Sektor Riil
Bagi Indonesia, perkembangan pasar solar global perlu dicermati karena bahan bakar ini memiliki peran besar dalam mendukung distribusi barang, kegiatan industri, transportasi, dan aktivitas pertambangan.
Program peningkatan produksi BBM dalam negeri serta pengembangan biodiesel dapat menjadi faktor pendukung dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, dampak terhadap Indonesia tetap bergantung pada kecukupan pasokan domestik, kebutuhan industri, perkembangan harga energi internasional, dan kebijakan pemerintah.
Jika tekanan harga global berlangsung lebih lama, pelaku usaha perlu mengantisipasi kemungkinan meningkatnya biaya distribusi dan produksi. Pemerintah juga perlu menjaga keseimbangan antara ketersediaan energi, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan anggaran negara.
Pemulihan Pasokan Masih Menunggu Perkembangan Geopolitik
Ke depan, pasar energi dunia akan mencermati pemulihan operasional kilang, perkembangan konflik di Timur Tengah, serta kemampuan negara-negara produsen untuk meningkatkan kembali ekspor solar.
Selama gangguan produksi dan distribusi belum teratasi secara berkelanjutan, pasokan solar berpotensi tetap ketat dalam beberapa bulan mendatang.
Proyeksi hingga 2027 tersebut menjadi pengingat bahwa stabilitas energi global tidak hanya ditentukan oleh permintaan, tetapi juga oleh kelancaran produksi, distribusi, dan kondisi geopolitik.
.
.
.
.
.
.
Sumber: IDXChannel, mengacu pada laporan Badan Energi Internasional (IEA), 16 Oktober 2026










