SENJANEWS.NET
LAMPUNG TIMUR — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, masih menjadi perhatian serius pemerintah. Meski sejumlah titik api berhasil dipadamkan, kebakaran di area lain, khususnya lahan gambut di wilayah Resort Cabang, masih membutuhkan penanganan intensif.
Kebakaran yang berlangsung sejak September 2026 tersebut menjadi tantangan besar bagi tim gabungan. Karakteristik lahan gambut, keterbatasan sumber air, akses menuju lokasi, serta angin kencang membuat proses pemadaman tidak mudah dilakukan.
Kondisi ini mendorong Pemerintah Provinsi Lampung bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, BPBD, petugas TNWK, dan unsur masyarakat untuk terus memperkuat koordinasi dalam mengendalikan kebakaran.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa penanganan karhutla harus dilakukan secara terpadu, dengan mengutamakan efektivitas pemadaman sekaligus memperhatikan dampak asap terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Saat meninjau penanganan kebakaran bersama Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi pada Sabtu (24/10/2026), Gubernur Mirza melihat langsung kondisi lapangan, termasuk melalui pemantauan udara untuk mengidentifikasi titik api dan kebutuhan penanganan.
Menurutnya, dukungan personel, peralatan, dan logistik harus disesuaikan dengan tantangan yang dihadapi petugas di lapangan agar upaya pemadaman dapat berjalan lebih optimal.
Pemadaman Darat dan Udara Terus Diperkuat
Penanganan karhutla dilakukan melalui kombinasi operasi darat dan udara. Petugas di darat menggunakan pompa, pipa, serta selang panjang untuk menjangkau area yang sulit diakses. Sementara itu, helikopter dikerahkan untuk mendukung pemadaman melalui metode water bombing.
Operasi modifikasi cuaca juga menjadi bagian dari upaya penanganan, dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang memungkinkan penyemaian.
Berdasarkan laporan BNPB pada 25 Oktober 2026, sekitar 40 hektare area masih dilaporkan belum padam. Tim gabungan terus berupaya mengendalikan titik api agar tidak meluas ke wilayah lain.
Salah satu kendala utama berada pada karakteristik lahan gambut. Bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun api di permukaan terlihat telah padam. Kondisi tersebut memungkinkan asap kembali muncul dan titik api menyala kembali.
Karena itu, proses pemadaman tidak berhenti pada hilangnya kobaran api. Petugas juga perlu melakukan pendinginan, penyisiran, dan pemantauan berulang untuk memastikan bara api tidak kembali menyala.
Kesehatan Warga di Sekitar Kawasan Turut Diperhatikan
Selain menyelamatkan kawasan konservasi, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap dampak asap kebakaran bagi masyarakat sekitar TNWK.
Paparan asap berpotensi mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan. Pemerintah Provinsi Lampung menyampaikan perhatian terhadap pemeriksaan kesehatan warga, termasuk untuk mengetahui dampak paparan asap terhadap kondisi pernapasan.
Upaya ini menjadi bagian penting dari penanganan bencana, sehingga perlindungan masyarakat dapat berjalan beriringan dengan proses pemadaman.
Di sisi lain, keselamatan petugas yang bekerja di tengah medan sulit juga perlu menjadi perhatian. Dukungan logistik, peralatan pelindung, ketersediaan air, serta koordinasi antartim menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran operasi.
Titik Kebakaran Berbeda Perlu Dipahami Masyarakat
Pemerintah Provinsi Lampung juga mengklarifikasi informasi mengenai kebakaran yang sempat ramai diperbincangkan masyarakat karena disebut berada di dekat kawasan Pusat Latihan Gajah.
Berdasarkan keterangan BPBD Lampung pada 26 Oktober 2026, salah satu titik kebakaran di wilayah Resort Susukan Baru telah berhasil dipadamkan. Lokasi tersebut berjarak sekitar 14 kilometer dari Pusat Latihan Gajah, sehingga bukan berada di area kandang gajah.
Namun, padamnya titik tersebut tidak berarti seluruh karhutla di kawasan TNWK telah selesai ditangani. Kebakaran di lokasi lain, khususnya wilayah Resort Cabang, masih membutuhkan upaya pemadaman dan pemantauan.
Pemerintah mengimbau masyarakat agar memperhatikan lokasi dan waktu kejadian ketika menerima informasi mengenai karhutla, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman antara titik yang telah padam dan titik yang masih dalam penanganan.
Perlindungan Ekosistem Membutuhkan Dukungan Bersama
Taman Nasional Way Kambas merupakan kawasan konservasi penting yang menjadi habitat berbagai satwa liar, termasuk gajah Sumatra. Kebakaran hutan berpotensi mengganggu habitat, merusak vegetasi, dan memengaruhi keseimbangan ekosistem.
Oleh karena itu, penanganan karhutla tidak hanya bertujuan memadamkan api, tetapi juga melindungi keanekaragaman hayati dan mencegah kerusakan lingkungan yang lebih luas.
Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran di sekitar kawasan hutan.
Sinergi pemerintah, petugas lapangan, relawan, dan masyarakat menjadi kunci dalam mempercepat penanganan sekaligus mencegah munculnya kebakaran baru.
Dengan penguatan operasi pemadaman, perlindungan kesehatan masyarakat, dan peningkatan kewaspadaan bersama, diharapkan kebakaran di kawasan TNWK dapat segera dikendalikan dan kelestarian ekosistem Way Kambas tetap terjaga.
Sumber informasi: Pemerintah Provinsi Lampung, BNPB, dan laporan media terkait perkembangan karhutla di Taman Nasional Way Kambas.










