SENJANEWS.NET
JAKARTA- Di saat masyarakat tengah meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak abu vulkanik, kebutuhan masker justru menjadi ladang keuntungan bagi sejumlah pedagang di platform e-commerce.
Sejumlah tangkapan layar yang beredar memperlihatkan **perbedaan harga masker duckbill isi 50 pcs yang sangat mencolok. Produk sejenis ditemukan mulai sekitar Rp12.600 hingga Rp49.999, tetapi ada pula penawaran yang mencapai Rp94.999 bahkan Rp185.000 per kemasan 50 pcs.
Kondisi ini memicu pertanyaan publik: apakah sebagian pedagang sedang memanfaatkan situasi darurat untuk mendongkrak keuntungan?
SELISIH HARGA BIKIN GELENG KEPALA
Dalam tangkapan layar marketplace, masker duckbill Alkindo 10 warna isi 50 pcs ditawarkan sekitar **Rp12.600** dengan lokasi penjual tercantum **Surabaya**. Produk lainnya berada di kisaran **Rp13.000–Rp22.000**.
Di **Kabupaten Sidoarjo**, masker duckbill 3 ply isi 50 pcs terlihat ditawarkan **Rp15.000**. Sementara di **Jakarta Timur**, masker KF94 4 ply isi 50 pcs tercantum **Rp19.871**.
Harga lainnya antara lain **Rp16.500 di Jakarta Barat**, **Rp19.500 di Jakarta Utara**, serta **Rp23.150 di Surabaya**.
Namun, harga melonjak jauh pada sejumlah penawaran lainnya. Salah satu produk tercantum **Rp49.999** untuk kemasan isi 50 pcs dengan lokasi **Kabupaten Klaten**.
Yang lebih mencolok, tangkapan layar lainnya memperlihatkan masker dengan harga **Rp94.999**, sementara produk Sensi Duckbill isi 50 pcs bahkan tercantum **Rp185.000** dengan lokasi **Kota Administrasi Jakarta Barat**.
DARI BELASAN RIBU MENJADI PULUHAN, BAHKAN RATUSAN RIBU
Jika dibandingkan, **Rp185.000** berarti sekitar **14,7 kali** harga Rp12.600. Artinya, konsumen bisa menemukan produk masker isi 50 pcs dengan selisih harga yang sangat besar di marketplace.
Memang, **merek, ketebalan, jumlah lapisan, bahan, kualitas filtrasi, dan spesifikasi produk dapat menyebabkan perbedaan harga**. Tetapi apabila produk dengan spesifikasi yang setara dijual berkali-kali lipat dalam momentum meningkatnya kebutuhan masyarakat, kondisi tersebut layak mendapat perhatian.
Lebih panas lagi, sejumlah unggahan warganet mengaku mengalami **harga berubah setelah checkout atau pesanan dibatalkan**, kemudian produk kembali ditawarkan dengan harga lebih tinggi. Salah satu unggahan bahkan mengeklaim kenaikan hingga **10 kali lipat**.
PANEN CUAN SAAT WARGA PANIK?
Di tengah situasi seperti ini, publik tentu berhak bertanya:
Apakah ini murni mekanisme pasar karena stok dan permintaan, atau ada pedagang yang sengaja memainkan harga karena mengetahui masyarakat sedang membutuhkan masker?**
Jika terbukti ada praktik menaikkan harga secara tidak wajar, membatalkan pesanan secara sepihak demi menjual kembali dengan harga lebih tinggi, atau memberikan informasi harga yang menyesatkan, persoalannya tidak lagi sekadar soal mahal atau murah.
Ini menyangkut etika perdagangan dan perlindungan konsumen.
Masyarakat yang sedang membutuhkan perlindungan dari abu vulkanik jangan sampai justru menjadi sasaran “aji mumpung” oleh oknum pedagang yang mengejar keuntungan berlebihan.
Karena itu, **platform e-commerce dan pihak berwenang perlu ikut memastikan perdagangan kebutuhan masyarakat dalam situasi darurat tetap berlangsung secara wajar dan transparan.**
Harga boleh mengikuti pasar. Tetapi ketika kebutuhan dasar masyarakat dijadikan kesempatan untuk mengeruk keuntungan berlebihan, publik tentu akan bertanya: sampai di mana batas kewajaran?









